BBLKM Palembang

Kontak

CS : +62 811 7165 777

Marketing : +62 812 7365 8629

Alamat

Jl. Inspektur Yazid No.02

Kel Sekip Jaya Kec. Kemuning

Jam Layanan

Senin - Sabtu 07:00 - 20:30 WIB

Minggu 08.00 - 13.00 WIB

Lingkungan & Masyarakat

Bahaya Asap Mengintai! Jangan Cuma Pakai Masker, Cek Dulu Trik Sehat dan Tes Lab Penting Ini!

Udara yang tampak berkabut atau berbau asap bukan sekadar persoalan kenyamanan, di balik kondisi tersebut terdapat campuran partikel dan gas pencemar yang mampu masuk ke sistem pernapasan dan menimbulkan dampak kesehatan. Masyarakat Indonesia di berbagai wilayah kembali disiagakan oleh dua ancaman lingkungan yang terjadi dalam rentang waktu berdekatan pada September 2026 termasuk wilayah Sumatera Selatan, yaitu maraknya risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta lonjakan erupsi Gunung Anak Krakatau.  Banyak yang tidak sadar bahwa bahaya hirup asap Karhutla dan abu vulkanik itu sifatnya mengendap. Polutannya menumpuk pelan-pelan di dalam paru-paru sampai akhirnya merusak organ tubuh secara permanen. Lantas, sejauh mana tubuh Anda sudah terpapar, dan tes kesehatan apa yang wajib dilakukan untuk memastikannya? Mari simak artikel di bawah ini.


🔰 Fakta Penting! Berdasarkan data sistem surveilans Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), tercatat sebanyak 50.891 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kabut asap Karhutla di wilayah Sumatra dan Kalimantan sepanjang periode Juli hingga Agustus 2026. Berdasarkan pemantauan BMKG, konsentrasi () di Talang Betutu, Palembang pada 7 September 2026 pukul 20.00 WIB mencapai 209,4 µg/m³, yang termasuk kategori Sangat Tidak Sehat. Hal ini sejalan dengan rujukan World Health Organization (WHO) yang mencatat bahwa partikel halus () dari asap Karhutla berukuran 30 kali lebih kecil dari sehelai rambut manusia, sehingga mampu menembus bulu hidung dan langsung masuk ke kantong udara paru (alveolus) hingga pembuluh darah.

Inilah alasan mengapa pemantauan kualitas udara dan pemeriksaan laboratorium menjadi bagian penting dalam respons kesehatan lingkungan. Guna melindungi kesehatan diri dan keluarga dari paparan asap serta abu berbahaya, simak artikel dibawah ini.

 

Mengenal Asap Karhutla dan Abu Vulkanik

Meskipun keduanya dapat meningkatkan jumlah partikulat di udara dan menyebabkan gangguan kesehatan, asap karhutla dan abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda.


        Asap Karhutla

Asap karhutla berasal dari pembakaran vegetasi, bahan organik, lahan gambut, dan material lain yang terbakar. Komposisinya dapat meliputi:

·      ( and ).

·         Karbon Monoksida (CO);

·         Nitrogen Oksida;

·         Senyawa Organik Volatil;

·         Hidrokarbon Aromatik Polisiklik; serta

·         berbagai senyawa dan unsur lain bergantung pada material yang terbakar.

WHO menyatakan bahwa partikulat merupakan salah satu ancaman kesehatan masyarakat utama dalam asap kebakaran hutan.


Abu Vulkanik

Abu vulkanik merupakan fragmen material vulkanik berukuran sangat kecil yang dihasilkan selama erupsi. Partikel yang lebih besar terutama mengiritasi mata dan saluran napas bagian atas, sedangkan fraksi yang lebih kecil dapat masuk lebih jauh ke sistem respirasi.


Dampak Kesehatan Utama akibat Asap & Abu Vulkanik

Iritasi Akut Mata, Kulit, dan Saluran Napas 

Reaksi langsung berupa mata pedih dan berair, kulit gatal, tenggorokan kering, batuk, hingga sakit kepala akibat paparan gas beracun dan partikel tajam.

Abu vulkanik juga dapat menimbulkan iritasi mekanis pada mata sehingga penggunaan pelindung mata menjadi penting ketika terjadi hujan abu.


Sesak dan Kekambuhan Penyakit Pernapasan Batuk

Partikulat dapat mengiritasi saluran pernapasan dan berhubungan dengan batuk, mengi serta sesak napas. Pada penderita asma, PPOK atau penyakit respirasi kronis lainnya, kualitas udara yang buruk dapat memperburuk gejala dan meningkatkan kebutuhan pelayanan kesehatan.


Dampak Kardiovaskular

PM₂.₅ tidak hanya berkaitan dengan paru. Bukti epidemiologi menunjukkan hubungan antara paparan partikulat dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular.

Karena itu, penderita penyakit jantung dan pembuluh darah juga merupakan kelompok yang harus mendapat perhatian saat terjadi episode pencemaran udara berat.


Kelompok Rentan yang Perlu Diwaspadai

  • Bayi dan Balita (Usia 0–5 Tahun)
  • Lanjut Usia (Lansia)
  • Penderita Penyakit Pernapasan Kronis: Individu dengan riwayat asma, PPOK, bronkitis kronis, atau TB paru.
  • Penderita Penyakit Kardiovaskular: Penderita jantung koroner, hipertensi, atau riwayat stroke
  • Ibu Hamil
  • Pekerja Lapangan (Outdoor Workers)
  • Pengendara yang terpapar dalam waktu lama;
  • Masyarakat yang tinggal dekat sumber kebakaran atau daerah dengan kualitas udara buruk.


Langkah Terpadu Menghadapi Asap Karhutla & Debu Vulkanik

1.  Pantau Kualitas Udara

Jangan hanya menggunakan penglihatan atau penciuman sebagai indikator.

Masyarakat dan pemerintah daerah perlu mengikuti informasi kualitas udara resmi, termasuk pemantauan PM₂.₅ BMKG. Ketika konsentrasi meningkat ke kategori tidak sehat, pengurangan paparan harus menjadi prioritas.


2. Kurangi Waktu, Aktivitas Berat di Luar Ruangan dan Lindungi Diri jika di Luar Ruangan 

Gunakan respirator partikulat yang sesuai dan terpasang dengan baik, seperti N95 atau respirator dengan tingkat perlindungan setara. Masker harus menutup hidung dan mulut dengan baik. Celah antara masker dan wajah dapat menurunkan efektivitas perlindungan.


3. Amankan Ruangan & Sanitasi

Tutup rapat pintu/jendela, basahi lantai sebelum menyapu agar debu tidak terbang kembali (resuspensi), serta segera mandi dan berganti pakaian setelah beraktivitas di luar.


4. Jagalah Hidrasi & Nutrisi 

Minum air putih minimal 2 liter per hari untuk membantu pembersihan alami saluran napas dan konsumsi makanan kaya antioksidan.


5. Kenali Tanda Bahaya

Segera mencari pelayanan kesehatan apabila mengalami:

·       Sesak napas yang semakin berat;

·       Mengi berat;

·       Nyeri dada

·       Penurunan kesadaran;

·       Bibir dan ujung jari tampak kebiruan;

·       Batuk atau gangguan pernapasan yang terus memburuk; atau

·       Perburukan penyakit asma, PPOK maupun penyakit jantung yang sudah dimiliki.


Sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Kesehatan RI yang terakreditasi nasional dan internasional, BBLKM Palembang melakukan pemeriksaan medis dan pengujian lingkungan terpadu untuk mengidentifikasi serta memantau dampak paparan asap Karhutla dan debu vulkanik secara presisi berikut:

  • Rontgen Thorax (Foto Dada): Pemeriksaan radiologi digital untuk memantau gambaran fisik jaringan paru, melihat adanya peradangan, infiltrat, hingga tanda awal pembentukan jaringan parut (silikosis). Harga : Rp. 135.000,- / Sampel
  • Spirometri (Uji Fungsi Paru): Pengukuran kapasitas vital dan aliran udara paru untuk mendeteksi penyempitan saluran napas (obstruksi) maupun penurunan elastisitas paru (restriksi). Harga : Rp. 85.000,- / Sampel
  • Tes Darah Lengkap: Analisis spesimen darah untuk menilai tingkat keparahan peradangan sistemik dan respon imun tubuh akibat paparan gas beracun serta mikropartikel. Harga : Rp.105.000,-
  • Mikrobiologi Sputum (Pemeriksaan Dahak): Uji mikroskopis spesimen dahak guna mengidentifikasi adanya infeksi sekunder bakteri atau jamur saat pertahanan saluran napas melemah. Harga : Rp. 15.000,- / Sampel

Selain pemeriksaan klinis pada manusia, BBLKM Palembang juga melayani pengujian sampel lingkungan untuk instansi, pelaku usaha, maupun masyarakat guna mengukur tingkat bahaya pencemaran:

  • Pengujian Udara Ambien ( & ): Mengukur tingkat kepadatan debu dan partikel halus berbahaya di udara terbuka.

Harga :  Rp. 150.000,- 

               Rp. 150.000,-

  • Analisis Gas Terlarut: Pengujian kadar Karbon Monoksida (CO), Sulfur Dioksida (), dan Nitrogen Dioksida ().

Harga : Karbon Monoksida (CO)  Rp. 125.000,-

              Sulfur Dioksida ()  Rp.125.000,-

              Nitrogen Dioksida () Rp. 125.000,-


INGAT!

Mari bersama kita jaga kesehatan diri dan keluarga dengan selalu menerapkan pola hidup bersih, selalu menggunakan masker standar saat berada di luar ruangan, serta menghindari kontak langsung dengan abu vulkanik. Jika Anda atau keluarga mengalami gejala gangguan pernapasan dan lainnya, jangan menunda untuk segera mencari pertolongan medis dan lakukan pemeriksaan laboratorium komprehensif di BBLKM Palembang demi penanganan yang cepat, akurat, dan tepat sasaran.


Komentar Pembaca

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi komentar.

Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Laporan Sistem Surveilans Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Periode Juli–Agustus 2026. Jakarta: Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Petunjuk Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Erupsi Gunung Api dan Kebakaran Hutan Lahan (Karhutla). Jakarta: Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI.

World Health Organization. (2021). WHO Global Air Quality Guidelines: Particulate Matter (PM_2,5 and PM_10), Ozone, Nitrogen Dioxide, Sulfur Dioxide and Carbon Monoxide. Geneva: World Health Organization.

Informasi Layanan & Pendaftaran

Tim kami siap membantu Anda untuk konsultasi maupun reservasi layanan kesehatan.

Jam Operasional
  • Senin – Sabtu : 07.30 – 20.30 WIB
  • Minggu : 08.00 – 13.00 WIB
  • (Hari Libur Nasional Tutup)
Gunakan subjek email: Tanya Paket MCU 2026 - [Nama Anda] untuk respon lebih cepat.
Lokasi

BBLKM Palembang
Jl. Inspektur Yazid No.2 KM 2.5

WhatsApp / Hotline

CS: 0811-7165-777
WA: 0812-7365-8629

Chat langsung untuk konsultasi paket
Email Resmi

[email protected]

Untuk kerjasama atau hasil lab instansi
Layanan Digital

ceklab.bblabkesmaspalembang.go.id

Pendaftaran online & cek hasil
Butuh Informasi Cepat?

Klik tombol di bawah ini untuk langsung terhubung dengan tim layanan kami.

Chat WhatsApp Sekarang
Respon cepat di jam operasional